Megawati Kesal Penguasa yang Seperti Orde Baru, Ini Kata Istana

MGO777, Jakarta – Koordinator Staff Khusus Presiden Ari Dwipayana mulai bicara masalah Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri yang merasa kesal dengan penguasa yang melakukan tindakan seperti jaman Orde Baru (Orba). Ari menjelaskan, Indonesia adalah negara demokrasi hingga siapa saja memiliki hak sampaikan gagasannya di ruangan public.

“Ya itu negara demokrasi ya. Semuanya orang dapat memiliki pendapat, membuat penilaian. Saya anggap itu cermin negara demokrasi,” kata Ari Dwipayana ke reporter, Selasa (28/11/2023).

Ia tidak ingin memberi komentar banyak masalah pengakuan Megawati itu. Ari menyebutkan hal tersebut hak Megawati sebagai Ketua Umum parpol untuk sampaikan pandangannya.”Saya tidak beri komentar itu tadi. Itu domainnya Ibu Mega, parpol,” katanya.

“Saya tidak memberikan komentar, negara demokrasi hanya itu,” ikat Ari.

Awalnya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri merasa kesal dengan beberapa penguasa yang melakukan tindakan seperti jaman orde baru. Karena kemerdekaan Indonesia sarat dengan perjuangan.

Hal itu, ia berikan pada acara Rakornas organisasi relawan dan partisipan simpatisan capres-cawapres nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Hall B3-C3 JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (27/11/2023).

“Mustinya ibu tidak bisa bicara begitu, tetapi telah kesal tahu tidak. Mengapa? Republik sarat dengan pengorbanan tahu tidak? Mengapa saat ini kalian yang baru berkuasa itu ingin melakukan tindakan seperti jaman orde baru?” kata Megawati.

Mega juga mengatakan supaya semua sukarelawan Ganjar-Mahfud untuk menantang dan memenangi pasangan nomor urut 3 itu di Pemilihan presiden 2024 dengan 1 perputaran.

“Betuli tidak? merdeka, menang kitaaa Ganjar-Mahfud satu perputaran,” sebut Mega, disongsong bising tepok tangan dari semua sukarelawan yang datang.

Megawati Merasa Tidak Disegani

Selanjutnya, diakuinya merasa tidak dipandang. Walau sebenarnya, dianya sempat juga pimpin Indonesia. Tetapi, Mega memperjelas sebagai partai dengan simbol banteng tidak pernah kalah dengan siapa saja.

“Tidak, terkadang ya, terkadang apa ya, saya juga manusia donk. Tapi ya pikirkan, kok saya tidak sama disegani ya. Lho, mengapa? Lho saya jelek-jelek sebelumnya pernah presiden lho, dan tetap dianggap nama Presiden kelima republik Indonesia lho,” tutur ia.

“Saya pasti tidak, apa, nurani saya ya terbuka donk, lho ini bagaimana sich? Penginnya apa sich? Silahkan jika ingin berkompetisi, kita, saya jika sukai di PDI Perjuangan, Agar ibu ini wanita tetapi ibu petarung, kita saja simbolnya banteng, mana ada banteng itu kalah,” tambah Megawati.

Megawati Kesal Ada Faksi Gertakan Masyarakat Menjelang Pemilu: Ia Itu Siapa, sich?

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri singgung beberapa pihak yang mengancam masyarakat menjelang Pemilu 2024. Megawati minta praktek gertakan itu disetop.

Hal itu, dikatakan waktu mendatangi Rapat Koordinir Nasional Sukarelawan Ganjar-Mahfud yang didatangi pimpinan organ sukarelawan simpatisan se-Pulau Jawa di Jakarta International Expo, Senin (27/11).

Awalannya, Megawati menceritakan masalah ramainya gertakan yang terjadi mendekati Pemilu 2024.

“Bayangin, mengancam, ia itu siapa sich? Jika ia berani, loh mengapa saya tidak bisa. Kamu perlu saksikan perundangannya, kamu sebagai apa, apa boleh kamu menekan masyarakat?” Kata Megawati.

Megawati menanyakan dasar gertakan yang sudah dilakukan karena menurut dia jangan ada beberapa pihak yang dapat memerintah masyarakat tanpa lewat ketentuan perundang-undangan.

Presiden kelima RI ini akui kesal karena menurut dia praktek gertakan itu seakan-akan ingin mengulang apa yang dulu pernah terjadi pada periode Orde Baru.

“Harusnya Ibu tidak bisa bicara begitu tetapi Ibu MGO55 kesal. Karena republik ini penuh pengorbanan tahu tidak? Mengapa saat ini kalian yang pada penguasa itu ingin melakukan tindakan waktu seperti zaman Orde Baru?” tutur Megawati.

Megawati Share Pengalaman Diinterogasi Aparatur

Tidak itu saja, ia juga share kisah hidupnya yang berulang-kali diinterogasi oleh aparatur kepolisian dan kejaksaan saat pemerintah Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Ia memperjelas, saat-saat semacam itu jangan terulang kembali dan minta supaya perlakuan intimidatif harus selekasnya disetop.

“Eh, jangan dech saat ini mulai kembali saat lagi saya masih hidup lho. Telah, stop dech bapak bapak yang saya kritiki ini, insyaf!” Megawati menambah