Debt collector adalah karier yang sudah dikenali beberapa orang. Tetapi, sebelumnya pernah kah anda bertanya berapa besar komisi yang didapat oleh beberapa penagih utang?
Rupanya komisi yang didapatkan oleh beberapa debt collector berbeda bergantung service yang diberi. Salah satunya service penagih hutang yang memberi komisi besar ialah yang berkaitan korporasi.

Umumnya penetapan komisi dari tiap kontrak diputuskan dari faktor reputasi perusahaan itu.

Salah satunya yang konsentrasi mengolah jasa service itu adalah kerabat dari turunan John Kei.

Angkatan ke-3 klan Kei, Ghezi Ngabalin akui nama besar John Kei benar-benar menolongnya dalam usaha penagihan hutang piutang yang sekarang dia tekuni. Ghezi adalah turunan John Kei sebagai debt collector di salah satunya firma hukum punya sepupu John, yakni Umar Kei.

Dimotori oleh Umar Kei, firma hukumnya bergelut di usaha penagihan yang mengarah ke tempat business to business (B2B), atau jadi mediator penagih hutang dari 1 substansi usaha ke usaha lain.

Ke CNBC Indonesia, Ghezi mengutarakan jika upayanya ini dipandang berdasar komisi. Umumnya komisi dapat bermacam sama sesuai persetujuan.

“Komisi dapat bermacam, misalkan 10% dari keseluruhan piutang satu project Rp3 miliar, ya dapat memperoleh sekitaran Rp300 juta,” ungkapkan Ghezi melalui jaringan telepon beberapa lalu.

Tidak sangsi usaha debt collector piutang usaha kelihatannya lebih memberikan keuntungan. Masalahnya nilai credit usaha yang ditanggung ke sejumlah substansi usaha condong besar.

Tetapi di mana terdapat hasil yang lebih besar, terkadang dibayang-bayangi dampak negatif yang lebih besar juga. Usaha ini penuh akan perselisihan, dan penagihan hutang dengan jumlah besar mengharuskan faksinya bekerja dalam team yang semakin lebih besar.

Dalam pada itu, service debt collector yang paling wajar dijumpai ialah ke pemilik motor dan mobil yang cicilannya telah macet. Tetapi komisi yang didapat dari service itu jauh kalah jika dibanding yang bermasalah dengan korporat.

Pegiat Asset Recovery Manajemen salah satunya perusahaan Leasing kendaraan di Indonesia, Budi Baonk menjelaskan seorang debt collector akan dibayarkan sesuai biaya yang sudah disetujui bersama perusahaan leasing.

Komisi atas penarikan asset leasing itu disetujui saat surat kuasa di turunkan dari perusahaan leasing ke perusahaan jasa penagihan external.

“Kisaran harga [tarif debt collector] paling kecil Rp lima juta sampai Rp 20 juta,” ungkapkan Budi ke CNBC Indonesia.

Budi menambah, besaran fee atau gaji debt collector ini bergantung tipe unit yang ditangkap. Misalkan, jika mobilnya keluaran terkini akan tambah mahal daripada mobil produksi lama.