Harga daging sapi Australia bagian Utara dilaporkan anjlok hingga setengahnya, sementara di Selatan turun 30%. Penurunan harga terjadi setelah sempat cetak rekor tahun lalu.
Di mana, abc.net.au melansir, harga kontrak sekitar 12 bulan lalu masih di US$5 per kg, setara US$1.500 per ekor. Sementara, Departemen Pertanian Australia pun memprediksi, harga per kilogram hidup sapi ternak untuk tahun buku 2023-204 akan turun 8%.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi) Suhandri mengatakan, penurunan harga tersebut sebagai efek rencana Australia sejak 2 tahun lalu.

“Dia mempertahankan populasi tidak boleh dipotong, populasi diperbanyak. Jadi ada masa, ada siklus di mana dia berusaha untuk mempertahankan dulu jumlah populasinya, begitu jumlah populasinya sudah siap untuk dipotong baru dipotong,” katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (21/7/2023).

“Kalau di kita kan nggak ada nah kalau di sana itu ada masa ada sistem bahwa pada saat populasi turun dia tidak boleh dipotong. Boleh dipotong tapi hanya dalam jumlah tertentu untuk mempertahankan populasi dan menaikkan populasi,” jelas Suhandri.

Dia menambahkan, akibat program itu, populasi sapi di Australia memenuhi ketentuan target pemerintah.

“Nah, di awal tahun 2023 populasi mereka sudah berlebih makanya mereka sudah masa panen istilahnya, untuk dipotong sehingga harganya lebih baik daripada 2-3 tahun yang lalu. Itu siklusnya seperti itu,” tutur Suhandri.

Untuk itu, dia merekomendasikan pemerintah segera memanfaatkan momentum penurunan harga sapi di Australia.

“Iya saya rasa sekarang adalah momen yang bagus (untuk pacu impor). Pada saat dia memang lagi populasi banyak dan dia potong banyak ini kita kesempatan untuk impor. Karena kan pasti harganya dapat murah,” ujarnya.

Sebagai informasi, mengutip Outlook Komoditas Peternakan Daging Sapi edisi tahun 2022 oleh Kementerian Pertanian (Kementan), sebagian besar impor daging Indonesia berasal dari Australia (daging sapi) dan India (daging kerbau). Sementara impor sapi hidup berasal dari Australia.

Tercatat, pada tahun 2021, impor daging dan jeroan sapi Indonesia hingga 45,6% berasal dari Australia. Atau sekitar 126,07 ribu ton.

Disebutkan, pada tahun 2021 dan 2022, harga daging di Indonesia melonjak akibat kenaikan harga sapi bakalan impor dari Australia. Yang kala itu mencapai US$3,95 per kg pada Januari 2021, naik dibandingkan Juli 2020 yang tercatat di US$3,2 per kg berat hidup. Lalu naik lagi jadi US$4,52 per kg di Mei 2021, atau melonjak 19,9% secara tahunan.

Meat and Livestock Australia (MLA) mencatat, ekspor sapi ke Indonesia sepanjang tahun 2021-2022 diprediksi mencapai 1,1 miliar dolar Australia, berkontribusi 7% terhadap nilai ekspor sapi Australia. Indonesia disebutkan sebagai pasar ekspor terbesar sapi Australia.